Sejumlah warga di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat menjalani karantina mandiri di tengah keterbatasan kebutuhan pokok.
Kondiis ini dialami keluarga Paulus Genggong bersama istri dan dua orang anaknya.
Sebelumnya, Paulus dan keluarganya tinggal di Makassar Sulawesi Selatan untuk sementara waktu mengadu nasib.
Karena wabah Covid-19, ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempat kerjanya dan memilih pulang kampung.
Beberapa hari yang lalu, ia dan keluarganya tiba di Dusun Mongen, Desa Osango Kecamatan Mamasa.
Di dusun itu, ia berencana menjalani karantina mandiri di gubuk sawah miliknya.
Namun kehadirannya di tolak oleh warga setempat.
Akibatnya, ia dijemput oleh kerabatnya, untuk menjalani karantina mandiri di salah satu gubuk sawah di Desa Satanetean, Kecamatan Sesenapadang.
Kejadian ini diceritakan oleh Zeth Genggong kerabatnya, melalui akun facebooknya yang diunggah di grup facebook Warkop to Mamasa.
"Inilah tempat karantina saudara kita Paulus Genggong bersama istri dan kedua anaknya yg masi kecil, mereka dikarantina di salah satu pondok sawah di sespa, karna mereka sempat ditolak oleh warga di mongen desa osango," tulis Zeth Genggong di akun facebook Jumat (24/4/2020) siang tadi.
Padahal lanjut Zeth Genggong dalam grup itu mengatakan, "Paulus Genggong berangkat dari makassar rencannya mau karantina mandiri di Mongen, karna disitu ada pondok sawahnya, tapi masyarakat setempat menolak mentah-mentah." katanya.

"Dan akhirnya saya menjemput mereka dan saya bawa mereka ke salah satu pondok sawah di desa Satanetean Kecamatan Sesenapadang, dengan berbekalan 4 liter beras.
Dan belum ada penanganan khusus dari pemerintah soal jaminan selama karantina sudah 3 hari," cuit Zeth Genggong.
Sejak diunggah, tulisan ini telah mendapat rarusan tanggapan dan komentar warga net serta telah puluhan kali dibagikan.
Hingga berita ini dirilis, belum dilakukan konfirmasi secara resmi kepada yang bersangkutan.
