Seperti cerita Nurdiansyah, salah satu perawat di RSPI Sulianti Saroso, sekaligus pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Nurdiansyah mengatakan, banyak teman-teman sejawatnya sampai diusir dari kontrakannya karena dikhawatirkan membawa virus ke warga sekitar.
“Suka-duka yang kami alami adalah, ada teman-teman kita, banyak sekali mengalami stigma negatif. Ada teman saya diusir dari kontrakan oleh warga sekitarnya,” ungkap Nurdiansyah saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (19/4).
Ada pula perawat yang tak diusir, namun keluarganya dikucilkan oleh masyarakat. Menurut Nurdiansyah, sampai anak-anak si perawat pun dipaksa tak berinteraksi dengan anak-anak lain di lingkungan sekitarnya.
“Terus teman saya anaknya dikucilkan dari anak lain. Jadi anak-anak di lingkungan itu tidak dibolehkan sama orangtuanya untuk main sama anak teman-teman yang perawat,” kisah Nurdiansyah.
Fakta itu menurut bagi Nurdiansyah memprihatinkan. Ditambah lagi dengan banyaknya tenaga media yang tertular virus corona atau COVID-19 hingga meninggal dunia.
“Sekarang sudah banyak teman-teman yang mengalami terinfeksi,” ucapnya.
Terlepas itu, Nurdiansyah mengapresiasi pemerintah saat ini telah banyak menyediakan fasilitas tempat tinggal dan beristirahat bagi para tenaga medis. Dengan begitu, tenaga media tak selalu harus pulang ke rumah masing-masing usai bekerja menangani pasien corona.
