Kematian bocah itu menggegerkan warga Bontang. Kehebohan itu terjadi karena orang tua bocah itu diduga berbohong saat rumah sakit menanyakan riwayat perjalanan.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Taman Husada Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati membenarkan adanya pasien anak meninggal. Anak itu telah menjalani rapid test dan hasilnya reaktif positif COVID-19.
Pasien anak tersebut meninggal sebelum sempat melakukan pemeriksaan swab. Menurutnya, anak tersebut memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta.
“Pasien meninggal, sebelum melewati pemeriksaan swab. Riwayat orang tua berpergian ke daerah pandemi Jakarta sehingga yang bersangkutan dites rapid dan hasilnya positif,” katanya.
Ilustrasi positif terkena virus corona. Foto: Shutter Stock Toetoek melanjutkan, kematian bocah itu karena riwayat penyakit ginjal. Tapi kondisinya diperparah oleh virus corona yang ada di tubuhnya.
“Jika pada pasien terdapat penyakit penyerta, seperti jantung, ginjal, paru, diabetes, dan lainnya, itu merupakan kondisi yang memperparah dan rentan tertular infeksi COVID-19. Bahkan infeksi lain karena pengaruh sistem imun,” jelasnya.
Sebelumnya, bocah tersebut pernah dirawat di Rumah Sakit Islam Bontang (RSIB) sejak 6 April 2020. RSIB sudah melakukan serangkaian proses screening sesuai prosedur.
Dalam tes itu sebenarnya pihak rumah sakit sudah menanyakan riwayat perjalanan pasien, termasuk riwayat perjalanan orang tua.
Diduga orang tua bocah itu tidak memberi jawaban yang jujur. Mereka mengatakan tidak ada riwayat perjalanan keluar kota, padahal sebaliknya.
Karena hasil pemeriksaan menunjukkan reaksi COVID-19, anak tersebut akhirnya dirujuk ke RSUD Taman Husada Bontang pada Kamis sore. Kematian bocah itu lantas membuat Management RSIB, harus melakukan klarifikasi melalui flyer di media sosial, Kamis (23/4/20).
"Pasien tersebut dirawat selama 18 hari sampai 23 April 2020. Rupanya baru diketahui hasil rapid tes positif. Dalam situasi pandemi ini, kejujuran menjadi satu acuan penting untuk dipahami bersama,” tulis RSIB dalam keterangan resminya.
